Totally… Our Kids… 14 Kids…

ALIF GUSDI RAHMAWAN

Atau nama gantengnya dek ALIF. Dek alif duduk di kelas 4 dan selalu dapat rangking 1 lho di  kelas (kalas 1 dan 2). Dek alif anaknya supel,bisa bergaul dimana saja baik di sekolah maupun di rumah. Dan terbukti hal itu yg membuat guru2 sangat senang terhadap dek alif. Nilai rata2 dek alif itu di atas 7 lho. Dek alif selalu ingin duduk di depan dan selalu bertanya kepada bu guru bila nggak ngerti ato binggung. Dek alif juga aktif di dalam kegiatan2 sekolah seperti drumband dan pramuka Orang tua dek alif sehari2 bekerja sebagai tukang jual bensin(ayah) dan tukang jahit (ibu). Dek alif sehari-hari belajar dirumah di bantu sama kedua orang tuanya, ayah mengontrol PR dan ibu yang mengajari dek alif. Dek alif punya cita-cita menjadi dosen. Orang tua dek alif selalu optimis dalam memberikan semangat sama dek alif. Seharinya dek alif di beri uang jajan Rp,2000,- seharinya. Ada cerita unik di balik mesin jahit ibunya dek alif. Ketika tim bertanya ttg mesin jahit snag ibu langsung menjawab “ini pake duit alif lho belinya”.sontak terdiam dan bilang “kok bisa?”.usut punya usut ibunya dek alif juga sering cerita2 dalam berbagai hal dengan ibunya. Dan pada waktu itu ibu dek alif pengen punya mesin jahit,dan alif langsung ke kamar menggambil uang tabungan nya lalu memberikan semuanya kepada ibunya n alif bilang “bu,pake aja semua nya ini buat ibu kok,nanti dek alif nabung lagi aja”. Dan yang kedua baru2 ini dek alif kemabali mengambil seluruh uang tabungan nya sebesar Rp.200.000 dan memberiak nya kepada ibunya dan berkata “bu,ini alif ada uang untuk bikinin ibu SIM motor,nanti ini gunanya untuk ibu bantu alif cari smp dan antar jemput alif dan ibu juga ga usah khawatir lagi sama polisi”. Itulah yang keluar dari pikiran anak kelas 3 SD yang selalu mengerti dan memberikan yang terbaik untuk keluarganya. HIDUP DEK ALIF..

Muhammad Sahrul Arifin

Atau biasa dipanggil Sahrul yang sekarang duduk di Kelas III. Sahrul sangat suka pelajaran Matematika karena menurutnya gampang, saking sukanya dia sering mendapat nilai 10 saat ulangan. Tidak hanya Matematika, pelajaran Agama juga merupakan satu pelajaran yang paling disukainya. Ketika ditanya apa pelajaran yang tidak disukai, Sahrul menggelengkan kepalanya,waw,sehingga tidak heran bila Sahrul mendapat ranking ke 3 semester lalu. Dari informasi wali kelas, Sahrul ternyata merupakan satu – satunya pria di jajaran ranking sepuluh besar. Dan hebatnya lagi Sahrul merupakan ketua kelas.

Kesehariannya seperti anak pada umumnya masih suka bermain sepulang sekolah. Tempo hari pas kita berkunjung ke rumahnya Sahrul kedapatan bermain layang – layang di sekitaran. Ada waktu bermain ada pula waktu istirahat, biasanya Sahrul menjadwal tidur siangnya jam 12 sampai jam 3 terus mandi n TPA. Jam 6 sore dia mulai belajar sampai jam 8, nonton TV terus tidur deh. Selain rajin belajar, Sahrul juga rajin ibadah sholat lima waktu dan yang paling cadas adalah rajin menabung,waw. Uang sakunya 2000 rupiah, kadang – kadang 1000 rupiah, dan hanya dibelanjaain buat jajan 500 rupiah brur. Memang ibunya suka ngasih bekal pagi tapi alokasi nabung itu bukannya tanpa alasan, Sahrul mengerti kondisi keadaan ekonomi keluarganya, tabungannya itu nanti buat dia beli perlengkapan sekolah. Dia tidak banyak menuntut dibelikan ini itu dari orangtuanya.

Ibunya (SD tidak tamat),yang asli Surabaya, membantu keuangan rumahtangga dengan membuat kalung roncean yang dikerjakannya di rumah lalu disetor ke tetangga yang akan menjualkannya. Bapaknya (tamatan SMP) menjadi tukang tambal gigi di kios pasar Pakem. Sahrul berangkat sekolah dengan sepeda kecilnya dari rumahnya di kampung Bener. Di rumah praktis dia seperti anak tunggal. Kakaknya berada di Malang bekerja dan kata ibuknya jarang, bahkan tidak pernah pulang. Mereka bertiga menghuni rumah yang sangat sederhana, ukuran 4 x 3, lantai dari batu, meski begitu mereka dekat satu dengan yang lain. Ibunya menemani saat belajar, kadang – kadang kalau sulit Sahrul bertanya, kalau masih sulit dia tidak segan bertanya ke tetangga samping rumah yang katanya cukup pandai. Sesekali dia belajar kelompok sama beberapa temannya termasuk Rian (bukan aku lho) teman dekatnya. Tetapi dasar anak kecil ya seringnya malah gojekan kalau belajar bareng (koyo dewe ki ora.h3) jadi Sahrul lebih suka belajar sendiri. Di kelas dia suka jadi tempat bertanya teman – teman yang lain, dan selain pintar dia juga murah hati alias ringan tangan alias suka membantu. Sahrul rutin melaporkan nilai ulangannya, apapun hasilnya. Bapaknya baru sampai rumah jam 9 malam sedangkan Sahrul pergi tidur antara jam setengah 9 sampai jam 9. Biaya sekolah yang dikeluarkan per semester mencakup pembelian LKS 9 buah masing masing Rp. 5000,- dan membayar biaya pelajaran komputer Rp. 12.000,-. Semoga Sahrul bisa mencapai cita – citanya jadi pilot atau pemain bola.

Nur Hidayati

Nur suka pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, ga suka sama Bahasa Inggris. Terakhir ranking 5. Berani tanya ke guru dan guru juga ngajarnya enak. Kegiatan ekskul disekolah yang diikuti pramuka, TPA (sudah Al-Quran), dan baris berbaris. Rumah Nur sebelahan persis dengan rumahnya Dewa (YCAC), Nur pernah punya kakak tapi meninggal (sebelum Nur lahir), penghuni rumah : bapak, ibu dan Nur sendiri (anak tunggal). Dirumah sering belajar bareng ibu untuk matapelajaran Matematika sedangkan nanya ke bapak untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dekat dengan ibu, sering curhat dan bantu memasak dan beres beres rumah. Cita-citanya ingin jadi dokter karena tahu dari tv.  Kegiatan dirumah TPA (sudah Al-Quran), sehabis pulang sekolah maen, tidur, bangun, TPA, belajar (Jam 7.00 – 8.00), Nonton sinetron. Lebih sering belajar dengan Dewa (untuk mata pelajaran Bahasa Inggris). Rajin shalat kalo diajak Dewa aja, bapak dan ibu jarang shalat. Uang saku Nur Rp. 2000 (kalo ada sisa buat besoknya atau ditabung). Teman dekat Nur : Feri dan Rufi.

Cerita tentang ortu: keluarga nur tinggal di rumah triplek yang ada di atas tanah pekuburan. Kalo juru kuncinya mati, yang kasih ijin jadi enggak ada, jadi ya terima gusuran lah mereka. Dalam keluarga, biasanya yang tegas bapaknya. Tapi di keluarga ini, ibu justru lebih tegas untuk urusan pendidian buat Nur. Ayah dan ibu yang Cuma lulusan SD berusaha banget buat penuhin kebutuhan pendidikannya Nur misalnya dengan memotivasi nur biar ikut les2 gratis ama mahasiswa2 UIN, jam mainnya dibatesin, kalo gag mapu beli LKS ya fotokopi, kalo nur gag pengen belajar pasti yang marah ibu. Nur nunggak les di sekolah (wajib buat mua murid) selama beberapa bulan terakhir ini. Didikan supaya nur bisa jadi anak yang mandiri emang udah ditenamin dari kecil. Nur ikut temenin ibunya yang pekerjaannya jaga warung pakdenya. Nursering bantu ibu masak, kalo gag sempet belajar, buku2nya dibawa ke tempat kerja ibunya trus belajar di sana. Nur memang anak tunggal, karena ayah ibunya memang masih kesulitan ekonomi. Ayahnya kerja serba serabutan, bahkan uang yang didapet per hari aja gag tentu. Uang saku nur kadang dikasih ama pakdhenya. Walo tidak mampu, ortu nur tetep pengen anaknya jadi orang pinter.