Seputar Indonesia dan Yogya CAC…

Seuntai tulisan liputan Harian Seputar Indonesia 15 Februari 2011:

Komunitas Sosial Coin a Chance Yogyakarta

Sekeping coin atau recehan sering dianggap tidak mempunyai nilai yang berharga bagi kebanyakan orang namun di tengah kehidupan anak-anak remaja yang selalu identik dengan gaya hidup yang modern dan glamour, ternyata masih ada sekelompok anak muda yang masih peduli dengan lingkungan sosial terutama masalah pendidikan. Dengan mengumpulkan uang coin mulai dari seratus rupiah bahkan yang paling besar adalah nominalnya seribu rupiah mereka bisa turut membantu mengurangi jumlah anak yang terpaksa putus sekolah karena tidak adanya biaya.

Gerakan anak-anak muda yang mengumpulkan uang recehan di kota gudeg ini menamakan diri dengan Komunikas Coin a Chance Yogyakarta, karena pertama kali ada aksi mengumpulkan coin berawal dari Jakarta pada tahun 2008. Kemudian melalui tangan Alluisius Dian Hartanto salah satu penggagas Coin A Chance (CAC) Yogyakarta menuturkan, pertama kali kenal adanya CAC ketika sedang mengikuti kerja praktek kuliah di Jakarta dan dikenalkan dalam CAC dan akhirnya mencari tahu kegiatan mengumpulkan coin.

Karena kegiatan gerakan mengumpulkan recehan dinilainya sangat postif yakni untuk kepentingan sosial dan bisa membantu orang banyak, akhirnya setelah mendapat ijin dari Jakarta kemudian sekitar awal tahun 2009 CAC di bawa ke Jogja. Pada awalnya untuk informasi Coin A Chance sendiri hanya dari teman ke teman, kemudian lewat adanya blogg dan situs jejarng sosial sepert facebook dan twitter keberadaan CAC di Jogja banyak disambut antusias oleh anak-anak muda.

“Saya sendiri tidak menyangka bisa sebanyak ini yang tertarik untuk ikut mengumpulkan coin. Selain itu juga tidak hanya anak muda saja yang ikut berpartisipasi bahkan ada juga yang sudah berkeluarga ikut menyumbangkan uang recehnya. Kita sebagai generasi muda tidak hanya menjadikan komunitas sebagai ajang seneng-senang saja, tapi juga bisa bermanfaat bagi orang banyak terutama yang membutuhkan,” tuturnya.

Jogja sendiri banyak dikenal sebagai kota pelajar karena ada banyak perguruan tinggi dan sekolah ternama di kota ini. Sehingga tak heran jika Jogja banyak dihuni oleh mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Meski mereka hidup sebagai perantauan dan identik dengan kantong yang pas-pasan, namun tak mengurangi rasa sosial mereka untuk turut serta bergabung dengan Coin A Chance dan ikut membantu mengumpulkan uang recehan.

“Kita disini tidak ada paksaan harus mengumpulkan dengan nominal sekian, tapi semampu kita saja. Kadang kalau ada sisa beli pulsa biasanya disisihkan dalam celengan atau bekas kaleng biskuit sehingga tanpa terasa sudah jumlahnya sudah banyak. Baru pas ada acara kumpul seperti ini kita bawa untuk dikumpulkan dengan yang lain,” ungkap Anto sapaan akrab Alluisius.

Sementara itu menurut Ardhi Iswansyah anggota CAC mengatakan, Coin A Chance Yogyakarta sendiri meski usianya baru akan menginjak dua tahun namun sudah memiliki adik asuh (sebutan bagi anak yang dibantu oleh CAC) sebanyak 12 anak, yang masing-masing duduk dibangku SD dan ada satu yang sudah melanjutkan ke tingkat SMP. Beasiswa tersebut diberikan oleh mereka setiap satu semester kepada sekolah untuk keperluan pendidikan seperti membeli buku pelajaran, seragam sampai sepatu. “Uang tersebut kita titipkan langsung kepada pihak sekolah baik oleh guru ataupun kepala sekolah agar dikelola secara baik untuk kebutuhan mereka. Kita tak lupa memantau terus perkembangan adik-adik asuh dalam prestasi belajarnya,” katanya.

Mahasiswa jurusan Komunikasi Universitas Islam Indonesia memiliki pengalaman unik ketika pertama kali memberikan beasiswa kepada adik asuh mereka yakni dengan memberikan secara langsung uang recehan yang dibungkus menggunakan plastik berukuran besar. “Waktu kepala sekolahnya sampai kaget menerima uang receh sebanyak itu yang sangat berat waktu dibawa, tapi karena ini adalah gerakan mengumpulkan coin jadi secara simbolis kita berikan dengan recehan,” akunya.

Bagi Ardhi dan temang-temannya dalam CAC Jogja lebih baik mengumpulkan uang recehan untuk membantu anak-anak yang memerlukan biaya untuk sekolah dari pada harus diberikan kepada orang minta-minta di jalanan. Karena akan lebih sangat berharga ketimbang hanya meminta-minta dengan belas kasihan orang. (fefi tri kurniasih)

Coin A Chance Yogyakarta memiliki agenda rutin yang dilakukan setiap bulan yakni untuk mengumpulkan uang recehan dari para anggota yang hadir. Kegiatan mereka biasa dilakukan setiap hari Minggu karena merupakan hari libur sehingga banyak anggota CAC yang bisa ikut hadir. Selain menghitung coin yang terkumpul mereka juga biasa melakukan sharing sesama anggota, tak jarang pula setiap acara kumpul bareng ada anggota baru yang ikut berpartisipasi dalam mengumpulkan uang logam.

Mereka juga rajin menginformasikan kegiatan mereka dalam situs web resmi CAC Jogja yakni www.coinforall.com dan juga jejaring sosial facebook Yogyakarta Coin A Chance. Selain itu akun twitter juga tak luput mereka gunakan sebagai media yang paling efektif dalam menambah anggota baru yaitu di @coinforall dengang menggunakan fasilitas dunia maya saldo dari uang recehan mereka semakin bertambah setiap waktu.

Alusius Dian Hartanto salah satu penggagas Coin A Chance (CAC) Yogyakarta mengatakan, dengan adanya fasilitas internet sangat membantu sekali dalam menginformasikan perkembangan seputar CAC dan juga adik asuh yang mendapat beasiswa. Meski belum memiliki donatur tetap maupun sponsor dan juga dukungan dari pemerintah namun mereka sangat optimis bisa terus memberikan beasiswa dan menambah jumlah adik asuh untuk kedepannya.

“Kita bersyukur tiap bulan kita kumpul bareng coin yang berhasil dikumpulkan selalu memuaskan. Bahkan pernah pencapai empat juta sekali kumpul, waktu itu saya bawa pakai koper untuk disetorkan dalam bank. Kalau untuk saldo sekarang saya kurang ingat jumlahnya ada berapa, tapi yang jelas sekeping uang logam sangat berharga karena bisa ditukar dengan sebuah kesempatan bagi anak-anak kurang mampu untuk melanjutkan sekolah,” katanya.

Dalam memberikan beasiswa kepada adik asuh masing-masing anak mendapatkan 180 ribu untuk SD dan SMP 300 ribu untuk setiap semester. Kemudian pada saat liburan semester para anak muda CAC yang kebanyakan masih duduk dibangku kuliah selalu berbagi kebahagian untuk mengajak adik asuhnya jalan-jalan mengisi hari libur. “Kita pernah ngajak adik-adik ke Taman Pintar selain buat refreshing juga banyak manfaatnya disana itung-itung nambah pengetahuan sambil berlibur. Kegiatan ini juga sekalian mengakrabkan kita dengan anak-anak, kadang kalau lagi kumpul rutin kita juga pernah ajak salah satu dari mereka sekalian bisa sharing,” paparnya.

Alluisius juga menambahkan, kegiatan menghitung coin biasa dilakukan di tempat-tempat umum seperti Boulevard Universitas Gadjah Mada (UGM) maupun Kedai Kopi yang juga turut mendukung kegiatan yang dilakukan oleh komunitas CAC. Hal tersebut juga bisa dijadikan media informasi langsung kepada masyarakat. “Kalau untuk tempat di share di facebook dan disebar lewat sms sehingga para coiners bisa datang langsung terutama bagi yang ingin gabung dengan kami. Kita juga punya tag line salam krincing setiap memberikan informasi. Harapan kita selanjutnya bisa menambah adik asuh dan terus memberikan beasiswa sampai pendidikan tinggi” tambahnya.

Sementara itu Caecilia Nindya Marketing Communication Kedai Kopi Espresso Bar selaku dropzone mengimbuhkan, kegiatan mengumpulkan uang recehan merupakan hal yang sangat positif meski sangat sederhana namun memiliki nilai yang berharga. Apalagi kegiatan ini juga dilakukan oleh sekumpulan anak muda sehingga sangat luar bisa memiliki rasa sosial yang tinggi terhadap mereka yang membutuhkan. “Kami disini tidak hanya memikirkan keuntungan saja, disini kita lihat apa yang mereka lakukan sebagai sesuatu hal yang luar biasa. Untuk itu kita turut support dengan memberikan ruang untuk berkumpul jadi apabila da pengunjung yang datang dan tertarik bisa dengan mudah ikutan dan mendapat informasi,” imbuhnya. (fefi tri kurniasih)