Sepenggal Cerita di Olimpiade Kuark

Sabtu tanggal 23 Februari 2013, adalah hari bersejarah buat adik-adik asuh CAC. Bersejarah karena ini pertama kalinya mereka mengikuti Olimpiade Sains yang diadakan oleh lembaga belajar Kuark.  Total adik asuh yang ikutan olimpiade ini harusnya 11 orang, namun karena Afri sedang ada try out di sekolahnya, maka yang ikutan cuma 10 adik saja yaitu Sahrul, Jumali, Arif, Alif, Tiara, Yanto, Lisa, Nur, Taufik, dan Yuma. Cerita kali ini adalah tentang aktivitas kita pada hari itu.

Pagi sekitar jam 7 lewat, saya jemput Sahrul di rumahnya di daerah Jl. Godean. Dia kelihatan sudah siap dengan seragam pramuka dan ransel hitamnya. Berhubung kami harus sampai di lokasi pukul 7.30, maka saya langsung ajak dia buat naik ke motor. Bismillah, ini pertama kalinya saya boncengin anak kecil. Rada was-was karena itu berarti saya harus hati-hati sekali bawa motornya.

Karena sudah mempelajari peta, saya tidak kesulitan menemukan tempatnya, yaitu di  Fakultas Seni dan Bahasa UNY. Tapi baru juga tiba di tempat parkir, saya didatangi sama seorang Bapak yang menawarkan papan untuk ujian, beliau bilang nanti di dalam kelasnya tidak ada meja. Saya tanya ke Sahrul, ternyata dia juga tidak membawa papan ujian. Hmm, akhirnya saya hiraukan saja si Bapak dan langsung ajak Sahrul buat naik ke kelasnya. Baru saja masuk ke gedung kampus, ada mas-mas lagi yang datangin saya. Kali ini dia bukan ikutan menawarkan papan ujian, tapi bantu mencarikan kelas ujian 🙂

Karena Sahrul kelas 5 SD, maka ruangnya ada di lantai 3 ruang 22. Oke, sedikit tergopoh-gopoh kita naik karena takut terlambat. Pas lagi naik tangga, saya iseng tanya ke seorang Ibu yang juga lagi antar anaknya lomba. “Bu, beneran ya di kelasnya tidak ada meja, soalnya adik saya ga’ bawa papan,” tanya saya. “Ada kok Mbak, ga’ usah bawa papan ga’ apa-apa,” jawab si Ibu. Fyuhh, syukurlah.  Sesampainya di ruang kelas 22 lantai 3, saya ketemu Mbak Nina yang juga lagi nemenin salah satu adik asuh CAC, yaitu Yuma. Ternyata Yuma dan Sahrul sekelas. Pas saya antar Sahrul ke tempat duduknya, ternyata perkataan bapak yang tadi nawarin papan benar, memang tidak ada meja di kelasnya, adanya kursi yang sudah jadi satu sama meja, kursi khas mahasiswa. Hahaha..

Sambil membantu menyiapkan alat tulis dan kartu peserta untuk Sahrul, saya ingatkan dia buat berdo’a dan tenang pas mengerjakan soalnya. Karena di sini kita tidak mengejar kemenangan, tapi pengalaman. Sahrul, dengan gaya khasnya yang malu-malu, hanya mengangguk sambil nyengir lebar ke saya. Entah kenapa, ketika akhirnya saya dan mbak Nina pamit keluar kelas karena ujiannya akan segera dimulai, perut saya mendadak mulas. Oh, mungkin ini yang namanya mother-syndrome. Habisnya saya tiba-tiba khawatir dengan segala sesuatu mengenai Sahrul. Apa benar dia mampu mengerjakan soal-soal ujian itu nantinya? Apa dia nyaman dengan kursinya yang paling depan itu? Dan segala hal remeh lainnya.

Sambil berdo’a buat Sahrul, saya perhatikan kondisi sekitar. Ternyata dominan peserta lomba di ruang kelas Sahrul adalah siswa-siswi SD Pangudi Luhur, dan Sahrul satu-satunya yang mewakili SD Bener Tegalrejo. I’m proud of you, Rul 🙂  Kemudian para panitia lomba meminta seluruh orang tua dan wali untuk turun agar tidak mengganggu jalannya lomba. Akhirnya berkumpulah kita, para kakak pendamping yang kece-kece. Lomba dimulai pk. 08.30 dan berakhir pk. 10.00 WIB. Sambil menunggu, kita cari makan dan tempat yang enak buat ngobrol-ngobrol.

Akhirnya jam 10 tiba, kembalilah kita ke dalam lokasi lomba. Satu persatu anak mulai keluar dari kelasnya masing-masing. Ternyata masing-masing anak dikasih baju dari Kuark, warnanya kuning. Semua anak terlihat seragam, dan saya tidak lihat Sahrul sampai rombongan terakhir keluar. Kemanakah dia? Ternyata Sahrul, Yuma, dan beberapa anak yang lain sudah berada di lokasi permainan. Jadi rupanya, Kuark punya cara jitu banget untuk mengembalikan semangat siswa-siswi SD yang baru selesai lomba. Yap, mereka menyediakan fasilitas permainan yang amat menarik.

Sahrul yang semangatnya tinggi langsung pengen mencoba semua permainan. Pertama-tama dia ikut permainan ‘Pesawat Terbang’. Tiap anak dapat dua lembar kertas HVS buat dilipat jadi pesawat-pesawatan. Terus, mereka harus coba terbangin pesawatnya dan harus berhasil ngelewatin lingkaran besar dari semacam alumunium. Kalau berhasil mereka dapat poin. Sayangnya, pesawat Sahrul dua-duanya meleset. Hihi..

Tapi bukan Sahrul namanya kalau patah semangat. Selesai di situ, dia langsung ke permainan berikutnya, kali ini ‘Balap Mobil’. Di sini dia nyetir mobil…pakai remote control. Hehe.. Mobil-mobilan kok, besarnya paling cuma sekepalan tangan orang dewasa. Peraturannya adalah, dia harus bisa menjawab pertanyaan dari kakak panitia buat bisa jalanin mobilnya. Dan dia berhasil sampai finish. Yey!

Habis itu kita lanjut ke permainan selanjutnya, ‘Sepak Bola’. Mainnya pakai meja persegi panjang, dan dia harus berhasil masukin bola ke bolongan yang ada. Sebenernya, semua permainan di sini, mau menang atau kalah tetap dapat poin sih, yah adil lah untuk semua peserta 🙂 Setelah itu Sahrul melanjutkan ke  3 permainan terakhir. Pas akhirnya kita hitung, total poinnya ada 56 buah. Saya cek di kolom hadiah, poin segitu sudah bisa ditukar sama jam tangan. Sahrul sendiri ternyata juga sudah mengincar jam tangan dari tadi, haha. Padahal kalau mau ditukar ransel (yang menurut saya kualitasnya cukup bagus), Sahrul bisa dapatinnya dengan hanya sekitar 30 poin saja. Tapi karena ini adalah poin dia, ya bebaslah dia mau hadiah apa 🙂 Pada akhirnya dia tetap pilih jam tangan, warna biru. Cakep!

Selesai di situ, kita putuskan untuk menunaikan titah Ibu Negara alias Mbak Karlina untuk makan bersama. Akhirnya dipilihlah Pondok Cabe. Selesai makan, kita menunaikan titah lainnya, yaitu foto bersama. Nah, di sini Sahrul mulai keliatan tidak betah dan ngajakin pulang. Saya lupa, hari ini jadwalnya mengaji di TPA. Pas lagi siap-siap mau pulang, Ibunya Sahrul telpon saya sambil menanyakan keberadaan Sahrul yang belum pulang. “Hehehe, ini sudah mau pulang kok Bu,” jawab saya. Akhirnya kita pamit duluan deh, dan Sahrul sampai di rumah dengan selamat.

Sebagai kakak, saya bangga sama Sahrul. Walaupun lelah, tapi senyum terusss. Cesss ganteng! Walaupun hari itu dia masih bersikap malu-malu dan ga’ ngobrol banyak sama saya, tapi saya yakin suatu saat dia pasti mau cerita banyak ke saya. Dan sebagai kakak, saya rasa hari itu saya protektif abisss. Hehe.. Masih harus belajar banyak nih 🙂

Tidak cuma Sahrul yang belajar dan bermain hari itu, tapi saya sebagai kakak asuhnya pun belajar hal-hal baru. Saya yakin kakak-kakak yang lain juga gitu 🙂 Dan sungguh, lelah kita semua hari itu terbayar dengan pengalaman yang tidak akan bisa dilupakan. Terimakasih Sahrul, terimakasih CAC 🙂