Report kunjungan rumah yanto

Suatu ketika, sudah lama aku ga bermain ke rumah yanto. Salah satu adik asuh yang cukup khusus dan unik kasusnya.

Yanto 5 bersaudara, kakak pertamanya kembar, tapi dipisah dari kecil karna nggak bisa biayain. Kakak pertama, agus, harus ga lulus SD karena ketauan belum bayar buku waktu mau ikut UAN. Alhasil, dia ga bisa ikut tiga hari penentuan itu, dan ga punya ijasah SD hingga sekarang. Kakak kedua, siti, harus putus sekolah hanya karna ucapan “kalo siti besok ga masuk sekolah, dia udah dikeluarin dari sekolah. Ga usah sekolah lagi”. Siti pun malu, dan mogok sekolah. Yanto, harus ngulang kelas 4 karena ga mampu bayar LKS. “kalo besok yanto masih belum bayar, ga usah masuk sekolah lagi”. Dan karna memang dia ga mampu bayar, well, ga masuk sekolah jadi pilihan.

Satu setengah tahun lalu aku berkunjung ke rumahnya. Cukup lama setelah sekian lama. Lama ga jumpa, sambutan keluarga yanto masih sama. Ramah. Yanto bahkan udah berani ngomong sama kakak2nya.

Kunjungan pertama aku kesana sama mas johan. Yanto rangking 2, ga masuk 5 hari karna sakit tipusnya kumat. So far, ga ada masalah sampe ke cerita tentang ranti, anak bungsu keluarga ini. “ga mau sekolah lagi mbaaak, habis di ejek ITEM sama temennya. Padahal ibunya udah cari duit susah susah 400rb buat daftar TK”. Well oke, aku harus ketemu ranti.

Kunjungan kedua, bareng mas ijal and iren. Kita ketemu ranti. Semangat belajarnya tinggi.. Kalo liat yanto belajar, dia juga harus ikut pegang buku and pensil. Kalo yanto beli buku, dia juga harus dibeliin. Dalam usianya 6 tahun tanpa sekolah, ranti udah tau huruf A-Z dan angka 1-20. Ranti juga udah bisa mengerti pembicaraan orang dewasa.

“ini tembakau mbak, buat ngerokok, biar bisa dipake, harus pake korek dulu”. Itu penjelasan yang keluar dari anak umur 6 tahun ini.

Aku kasih dia pilihan untuk ngetes:
“tangan kanan=mau sekolah,tangan kiri=ga mau sekolah” dia pilih tangan kiri 🙁
“tangan kanan=mau pinter, tangan kiri=ga mau pinter” dia pilih tangan kiri
“tangan kanan=mau sekolah tapi ditemenin mamak, tangan kiri=mau sekolah tapi ditemenin kakak” dia pilih tangan kanan
“tangan kanan=mau sekolah,ditemenin mamak, diejek ngga papa. Tangan kiri=mau sekolah, ditemenin kakak, diejek nggapapa” dia pilih kanan
“tangan kanan=mau sekolah,ditemenin mamak 1minggu. Tangan kiri=mau sekolah, ditemenin mamak 2minggu” dia pilih tangan kiri

Iya, dia mengerti semua pilihannya. Cukup panjang dan kompleks, dia berpikir sejenak, baru memilih. Dia cerdas. Kami pun belajar angka bareng dia. Semua angka 1-10 fasih dia lafalkan, tulis, dan kenali.

Support orang tua. Kami ga bisa berharap besar dari ayah lulusan sd dan ibu lulus kelas tiga SD. Tapi mereka kami beri pengertian “bu, ranti semangat belajarnya tinggi, jangan diungkit2 terus soal ga mau sekolah. Kalo ibu nemenin nanti, jangan keliatan terpaksa dan sambat aja. Ibu harus ikut semangat. Tadi kan bisa belajar bareng, walau ibu ga bisa baca, tapi buktinya ranti seneng belajarnya” mata ibu berkaca, tanda mengerti 🙂

Hingga akhirnya kami harus pamit, dia berbisik “mbak, lima minggu ditemenin mamak ya” “nggak boleh, kan janjinya sama kakak2 dua minggu”

Bersyukurlah kita yang memiliki support dan motivasi tinggi untuk tetap bisa belajar, dan bersyukurlah kita bisa membuat orang lain tersenyum dalam perkataan yang kita ucap 🙂