Receh gak Remeh

Begitulah tag line Komunitas Coin A Chance Yogyakarta (YCAC) yang terbentuk sejak tahun 2009 di Yogyakarta ini. YCAC menularkan semangat bahwa untuk membantu sesama terutama di bidang pendidikan tak selalu harus dengan cara yang bombastis. Sebaliknya yang mereka lakukan adalah menggalang uang receh –notabene dianggap remeh oleh sebagian orang, yang akan digunakan sebagai beasiswa untuk teman-teman yang kurang mampu secara finansial dalam perjalanannya melanjutkan pendidikan. Inisiator dan penggerak dari komunitas ini mempunyai latar belakang yang beragam. Mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga pekerja dari beragam profesi. Keberagaman ini tak sedikit pun menghalangi niat baik mereka untuk membantu sesama. Dari keberagaman ini mereka sanggup saling mengisi dalam melaksanakan mekanisme kegiatan yang mereka miliki. Keberagaman ini merupakan hal positif bagi mereka karena bisa membuka kesempatan lebih luas untuk publikasi di wilayah yang lebih luas. More is good. Kegiatan yang biasa mereka lakukan secara rutin adalah penggalangan koin setiap satu bulan sekali. Besaran nominal dalam setiap kali penggalangan ini pun sangat beragam. Terkadang nominal yang sangat besar membuat komunitas ini lebih bersemangat untuk lebih banyak merangkul coin dropper (sebutan untuk donatur koin) supaya lebih banyak adik-adik asuh yang terbantu. Sebaliknya, bila yang terkumpul hanya sedikit mereka pun tak mengeluh, melainkan bersyukur karena mereka bergerak bukan atas target nominal tapi lebih pada ketulusan dalam berbagi. Kegiatan lain dilakukan oleh coiner (sebutan bagi pengelola komunitas) adalah melakukan publikasi melalui beragam cara untuk menjaring lebih banyak coin dropper. Ujung tombak publikasi mereka melalui media social networking di internet, tapi tak jarang mereka mendapat kesempatan lebih besar untuk cuap-cuap di radio menyuarakan gerakan koin ini. Kegiatan yang tak kalah pentingnya adalah penjaringan adik asuh. Penjaringan adik asuh dilakukan oleh YCAC melalui mekanisme ketat, supaya tak salah sasaran dalam pemberian beasiswa. Melalui hearing dan rekomendasi dari masyarakat umum, maupun mencari sendiri dari satu sekolah dasar ke sekolah lain mereka mendapat calon adik asuh. Setelah data awal terkumpul para coiner akan melakukan serangkaian proses layaknya interview, mini riset tentang kondisi keluarga calon adik asuh, dll. Perjalanan penentuan adik asuh bisa begitu panjang karena dirasa perlu mendapatkan kriteria adik asuh yang tepat. Hal ini dilakukan demi menjaga objektifitas keputusan. Apakah kriteria adik asuh harus berprestasi tinggi? “Tak harus berprestasi asal semangat untuk bersekolah tinggi dan berasal dari keluarga tak mampu”, begitulah ungkap Karlina yang aktif di YCAC menanggapi pertanyaan ini. Setelah berjalan kurang lebih dua tahun, bukan berarti komunitas ini berjalan tanpa kendala. Format komunitas yang tidak mengikat membuat mereka berjalan mengalir apa adanya. Memang terdapat desc job jelas antar masing-masing pos, tapi selebihnya gotong royong dan saling mengisi bisa meringankan beban kerja sosial ini. “Masalah manajerial komunitas dan regenerasi pengurus aktif adalah kendala terbesar kami”, ungkapan senada diutarakan beberapa coiner aktif ketika menanggapi poin kendala dalam kegiatan. Komunitas dengan kultur yang tidak mengikat tersebut bisa jadi dua sisi koin yang berlawanan, bisa positif karena tak ada paksaan. Sekaligus negatif karena sangat bergantung pada kesediaan waktu coiner untuk terlibat dalam setiap kesempatan. “Tetapi sejauh ini kita tertolong dengan banyak silih bergantinya rekan yang memberikan bantuan, terutama tenaga untuk mengelola komunitas ini”, imbuh Yosephus Ardean salah seorang founder YCAC. Dari waktu ke waktu terdapat kenaikan yang cukup positif pada animo masyarakat pada kegiatan ini. Hal ini pun membuat pundi koin mereka bertambah dan lebih banyak lagi adik asuh yang teringankan bebannya. Semakin matangnya komunitas ini membuat YCAC menjadi sebuah semangat baru di ranah pendidikan. Pendidikan memang semakin mahal, tetapi apa yang dilakukan oleh YCAC menghembuskan angin segar bahwa ternyata di negeri ini masih ada yang namanya solidaritas dan datang dengan cara yang tak pernah diperhitungkan sebelumnya. Sehingga putus sekolah karena ketiadaan dana bisa diminimalisir. Target selanjutnya dari YCAC, mendorong daerah lain dan lebih banyak masyarakat yang mengikuti gerakan positif semacam ini. Gerakan inisiatif lokal dirasa lebih efektif dibanding harus menunggu kepastian yang tak kunjung datang dari pihak yang lebih berkompeten. Selain itu masih dirasa perlu memeratakan bantuan pada teman-teman yang belum terjangkau. Juga termasuk pengembangan komunitas menjadi wadah kegiatan sosial yang lebih besar. Gema dari receh gak remeh telah menemukan banyak pengikut. Bermula dari Jakarta kemudian Jogja, kini banyak daerah lain hendak menyusul untuk bersegera mengadaptasi kegiatan positif ini. Tercatat dari YCAC ada 4 daerah lain yang siap dengan gerakan Coin A Chance ini, yaitu di Purwokerto, Malang, Palu, dan Sumatera. Apakah kalian muda-mudi Kudus termasuk yang mau menyusul beraksi dalam gerakan positif ini? Mau? Just simply as receh gak remeh, it’s Coin a Chance!”.