piknik koin by : fanbul

Jarum jam baru menyentuh pukul tujuh lebih lima menit, tapi, saya sudah bersiap untuk jebyar-jebyur, untuk hari minggu lain mungkin ini akan menjadi pamali mandi terlalu pagi, namun tidak minggu kali ini. Delapan, Juli, dua ribu dua belas.

“Mas, sudah bangun?” pesan singkat dari seorang siswa Sekolah Dasar yang baru saja naik ke kelas 6, dia juga baru saja menempati peringkat ke-2 di kelasnya lho!

“Udah dong, kamu udah bangun? (ya iyalah, masa dia bawa henpon ke mimpi), siap-siap gih sana Nto, entar mas jemput.”Balas saya.

Siswa tersebut adalah Yanto, murid Sekolah Dasar Bhakti Karya, adik asuh dari Coin a Chance Yogyakarta, yang kebetulan diamanahkan kepada saya untuk didampingi. Yak, kita sedang bersiap-siap untuk agenda yang sangat menyenangkan, sampai-sampai, saya tulis catatan kecil di sterofoam kamar, memasuki daftar kegiatan yang haram-untuk-dilewatkan-kalau-benar-benar-tidak-ada-urusan-yang-mendesak-banget. Agenda tersebut ialah Piknik Koin, sebuah rutinitas tahunan dari komunitas Coin a Chance Yogyakarta (@CACJogja), yang di mana mengajak adik-adik asuh serta kakak-kakak pendampingnya untuk tamasya bersama ke tempat wisata tertentu.

Kali ini, yang menjadi tujuannya adalah Kebon Binatang Gembira Loka, Kebon Binatang yang biasa diakronimkan menjadi bonbin ini sudah dibuka sejak tahun 1953, jaman kakek saya masih main kode sama nenek saya. Kita janjian pukul 10 Waktu Indonesia Bagian Toleransi Dikit Lah Ya, saya tiba pukul setengah 11, alasannya sih “Tadi sempet nyasar, maklum baru pertama kali kesini, hehe”, dan saking noraknya, saya sampai meminta petunjuk arah sama Yanto, yang katanya sudah tiga kali kesini. Sesampainya di Gembira Loka, rombongan kakak-kakak rempong  langsung menyambut heboh, heran, perasaan kita yang ngajak adik-adiknya piknik, ini kenapa kakak-kakaknya yang justru antusias? Hahaha.

Kita langsung berkenalan satu sama lain, ada beberapa kakak pendamping yang baru bertemu adik-adik asuh lain, ada pula sesama kakak pendamping, pun sesama adik asuh, benar-benar semacam sikrab (siang keakraban, sejenis malkrab) kecil-kecilan. Total peserta yang hadir berjumlah tiga puluh enam, enam belas adik asuh, dan dua puluh kakak pendamping. Setelah seluruh kakak pendamping dan adik asuh berkumpul, kita membentuk lingkaran besar, beberapa juga sibuk mengambil foto, dan saya bersama Aan, Tonny, dan Eny sibuk menjadi modelnya, alias banci kamera lebih tepatnya. Fotografernya ada mbak Kyan, mas Rasis (adiknya cantik, fi fi fiw..), mas Agung, mas Anto, dan mas satu-lagi-lupa. Wajar kan kalau kami menawarkan diri menjadi relawan ngabisin memori kamera? Alesan.

Mbak Karlina membuka acara Piknik Koin kali ini dengan berdoa, dan memberikan selembaran kepada setiap adik asuh, apa isinya? Yak, tugas! Ibu guru satu ini hobi sekali memberi PR kepada adik-adik ya. Tugasnya sederhana banget, setiap adik asuh harus mengisi kolom kotak dan lingkaran dengan nama temannya dan kakak-kakak pendamping, terdiri dari Nama, Pekerjaan, Hobi dan Warna Kesukaan. Nah, jadi selama piknik adik-adik sambil berkenalan satu sama lain dan mengisi kotak tersebut, biar makin akrab, seperti kata pepatah “Tak kenal, maka tak sayang.” Tapi, saya sudah lama kenal tapi kok gak disayang-sayang? Oke skip, melenceng.

Saya salah satu yang hobi ‘berdoa’ (lebih tepatnya berbohong) dengan pertanyaan adik-adik asuh, ketika ditanya “Nama?”, saya jawab “Robert”, dan dengan lugunya mereka percaya, ketika pertanyaan berlanjut ke “Pekerjaan?”,  saya jawab “Biro Jodoh”, dengan lugunya lagi mereka percaya, dan pertanyaan berlanjut ke “Hobi?”, saya jawab lagi “Mengaji”, dan Alhamdulillah dengan lugunya lagi-lagi mereka percaya. Anak kecil memang justru warna-warni dengan kepolosannya, haha.

Di dalam bonbin, saya melihat tingkah lucu adik-adik, mulai dari yang mengetuk-ngetuk akuarium berisi tokek karena tokeknya ngumpet sambil manggil-manggil “Kek, tokek..” lha, emangnya dia bakal nyaut “Woi..?” Terus, Rohim yang kabur waktu diajak foto bareng ular, sempat saya tarik-tarik tapi mukanya kaya abis ngeliat dedemit, jadi gak tega, yang berani justru Tiara dan Afri, dua kakak beradik ini kompak berani foto bareng ular tanpa gentar sedikitpun, jagoan kecil CAC Jogja nih!

Ada lagi kelakuannya Taufik dan Sahrul yang neriakin harimau yang sedang tidur, dan akhirnya kabur terbirit-birit karena harimaunya bangun dan mengaum, lagian siang-siang malah tidur bukannya kerja, ya gak Fik, Rul? Saking serunya, adik asuh saya Yanto, yang biasanya pendiam juga larut dalam suasana, ia berbaur dengan lima belas temannya yang lain, mulai dari saling meledek, sampai ke adu berani, walau akhirnya sama-sama kabur kalau diminta foto bareng ular. Adegan guyon bareng juga terjadi antara adik asuh dan kakak pendamping, salah satu reka ulang adegan ini adalah contohnya: Aan mendatangi rombongan adik asuh yang sedang istirahat dan makan di belakang kandang harimau, ia kemudian bertanya: “Dek, hewan yang paling kalian suka tadi apa?” Alif: *nunjuk Aan* Saking serunya, kita sampai lupa waktu dan sudah berjam-jam berada di dalam bonbin, ternyata benar memang, ketawa membuat orang lupa akan kepenatan dan kelelahan, semacam ada anestesi yang membunuh rasa capek sesaat.

Jam digital saya membentuk angka 14:26, sudah saatnya kita pulang, namun sebelumnya adalah, makan bareng (ini yang paling penting!), pas mau pulang kita juga kedatangan kakak pendamping mas Jeff, mbak Iren, dan mas Dimsoer. Mereka cuma kedapetan makan barengnya, kayaknya emang sengaja nih ngurangin jatah makan kita, konspirasi! Segitu mungkin cerita singkat di hari yang terasa sangat singkat bersama orang-orang yang saya sayangi. Mungkin benar memang, salah satu hal yang paling gampang menular adalah kebahagiaan, dan saya tertular hal tersebut. Piknik Koin ketiga namun pertama kali bagi saya ini mengajarkan tentang “senyum itu sederhana” sebagaimana sederhananya koin namun memiliki peran yang luarbiasa untuk mimpi serta senyuman mereka.

 

Sesampai di kostan, tiba-tiba handphone saya berbunyi, masuk sebuah pesan singkat

“Makasih ya kakak Coin a Chance, aku jadi dapat banyak temen, hari ini senang banget.”

Dari salah satu adik asuh, saya hanya membalas dengan lengkungan di bibir.