Kelas Mimpi #2

Hari Minggu kemarin, tanggal 13 Oktober 2013, CAC! Jogja berhasil menggelar sebuah acara seru yang diberi tema Kelas Mimpi #2. Acara ini digelar di Foodfezt Jalan Kaliurang Km 5,5. Kelas Mimpi sendiri merupakan program kerja yang sudah dipatenkan oleh Divisi Minat dan Bakat, khususnya dari koordinator Kanda Acara.

Kiran yang hari itu bertugas sebagai MC, mulai membuka acara pada pukul 10 pagi. Para kakak pendamping yang dominan memakai kaos biru CAC! Jogja, adik-adik asuh yang kece-kece, serta para pengurus internal maupun eksternal, diminta duduk demi dimulainya acara. Kiran kemudian menampilkan salah satu foto presenter terkenal di Indonesia yang menjadi idolanya, yaitu Sarah Sechan. Kiran bercerita bahwa dirinya ingin menjadi seperti Sarah.

Mengidolakan seseorang itu penting, agar diri kita bisa terpacu untuk menjadi orang yang lebih baik dan bermanfaat bagi sekitar. Asalkan yang diidolakan adalah sosok yang positif, dan kita yang mengidolakan juga tidak menjadi fanatic.

Kira-kira begitulah pesan yang saya tangkap dari penjelasan awal Kiran. Sebelumnya, para adik asuh telah diminta untuk membawa foto idola oleh kanda karyanya masing-masing. Dari pengamatan sekilas, adik-adik (khususnya yang perempuan), kebanyakan mengidolakan boy band atau girl band yang sering muncul di televisi, seperti Super Junior atau JKT 48.

Di sinilah salah satu fungsi Kanda Acara kemudian dijalankan, yaitu dengan cara memperkenalkan jenis pekerjaan lain yang diharapkan bisa menjadi inspirasi baru bagi adik-adik asuh.

Oleh karena itu, Kelas Mimpi #2 kali ini menghadirkan sosok-sosok yang sangat passionate di bidangnya. Sesi pertama diisi oleh para chef dari rumah makan Korea bernama Michigo, yaitu Chef Boim dan Chef Anton. Kedua chef ini memperagakan bagaimana cara membuat salah satu makanan khas Korea yaitu kimbab (kalau di Indonesia, jenisnya seperti lemper).

Sesi ini berlangsung seru. Selain karena temanya makanan (haha), juga karena para chef yang baik hati ini bersedia memberi ruang kepada yang hadir untuk mengkreasikan sendiri kimbab­-nya. Sebelumnya, para chef menjelaskan terlebih dulu bahan-bahan yang diperlukan (yang ternyata mudah didapatkan di Indonesia); demo pembuatan; hingga penyajian hasilnya di piring. Setelah itu, chef Anton meminta satu orang sebagai relawan untuk membuat kimbab berdasarkan langkah-langkah yang telah diajarkan.

Tanpa komando, kami semua tiba-tiba sepakat menunjuk Jumali. Adik kita yang satu ini memang terkenal dengan hobi memasaknya. Bahkan konon katanya, Jumali sering memasak untuk anggota keluarga di rumahnya. Cool!

Dengan pembawaan diri yang masih malu-malu, Jumali maju ke ‘panggung’. Dengan sedikit arahan chef Anton, ia mulai membuat kimbab versinya sendiri. Kami yang menonton segera terpukau karena Jumali kelihatan tangkas sekali di sana. Ia yang sejak awal memperhatikan dengan diam, ternyata cepat menangkap apa yang telah diperagakan sebelumnya oleh sang chef.

Chef Anton, Chef Jumali, Chef Boim

Ada satu moment lucu ketika Jumali harus memotong kimbab yang sudah jadi. Gayanya membasahi pisau dengan air, waaah itu sudah seperti chef profesional saja. Keren banget!  Hehe.. Jumali juga diajari sebuah rahasia oleh chef Anton yang punya pengalaman bekerja dengan orang Jepang, bahwa dalam peragaan memasak, sang chef  harus memasang kuda-kuda tertentu agar tubuh seimbang sehingga bisa memasak dengan percaya diri. Yeahuuu!

Setelah Jumali, giliran adik asuh si manis Fitri yang maju.  Kemudian ada Taufik yang berkolaborasi dengan Alief, Mbak Arin Kanda Karya, dan terakhir ada adik Diah dan Lisa.

Setelah semua bahan sudah habis dan hasil sudah ditata di piring, chef Boim memberikan penilaian atas karya yang telah dibuat. Hasilnya, karya Jumali dan Taufik dianggap sebagai yang paling ‘mengesankan’. Selamaaat~

Sesi pertama telah selesai. Terima kasih kepada para chef  yang telah mau meluangkan waktunya untuk mengajarkan satu lagi pelajaran baru untuk semua yang hadir. Chef Anton pun berpesan untuk terus belajar, belajar, dan belajar demi menggapai semua angan dan cita. 🙂

 

Sesi kedua kemudian digelar. Inilah saatnya para pejuang dari IS-Jogja menunjukkan kemampuannya. Eits, sebelumnya, apa sih IS-Jogja? 

IS-Jogja adalah singkatan dari Indonesia’s Sketchers yang para anggotanya berdomisili di Yogyakarta. Komunitas ini punya satu hobi yang sama, yaitu sketching atau menggambar. Pembicara pertama bernama mbak Ayu yang beneran ayuuuu.. Hihi. Selain menjelaskan gambaran umum tentang komunitas ini, mbak Ayu juga menjelaskan awal ketertarikannya dengan dunia menggambar. Katanya, Ia memang sedang menempuh pendidikan di ISI jurusan seni rupa, namun peningkatan aktivitas menggambarnya malah terjadi sejak dirinya ikut komunitas IS-Jogja.

Sambil menjelaskan hal-hal menarik yang dialami selama aktif di komunitas ini, mbak Ayu dibantu mas Hendra (penggiat di IS-Jogja juga), memutar berbagai hasil karya yang berasal dari teman-teman komunitas. Wuaaah, cakep-cakep banget gambarannya. Saya pribadi tertarik banget sama orang-orang yang punya passion di bidang ini. Yeeey! *tepuk tangan sendiri, hehe..*

DSC_0873

Jumali lagi liat sketch-book nya mbak Ayu

DSC_0891

Mbak Ayu lagi bikin sketch kursi yang ada di Foodfezt. Hasilnya dikasih ke akuuu.. Hihi ^^v

 

Setelah mbak Ayu, giliran mas Hendra (yang berlatar belakang bukan sebagai seorang seni, tapi justru dari MIPA) maju untuk men-demonstrasi-kan langsung bagaimana cara menggambar. Diambilnya secarik kertas dan juga sebatang arang. Sret sret sreet.. Selesai. Mas Hendra kemudian mengklaim gambar itu sebagai gambar seseorang yang sedang duduk. Padahal kalau diperhatikan lebih jauh, gambar itu dapat berbentuk apa saja karena memang hasilnya tidak terlalu jelas.

Mas Hendra – Mbak Ayu

Setidaknya inilah penangkapan saya dari inti komunitas IS-Jogja. Pertama, jangan takut untuk mencoba. Kebanyakan orang tidak menggambar karena takut hasilnya jelek, takut garisnya tidak lurus, takut hasilnya tidak sama dengan objek aslinya, serta takut-takut yang lainnya. 

Padahal selera orang dalam merasakan sebuah karya seni itu berbeda-beda. Bagi A, mungkin gambar kita jelek, tapi mungkin menurut B itulah gambar kita yang paling bagus. Padahal, kalau hanya menginginkan garis yang lurus, kita bisa menggunakan penggaris atau jadi arsitektur sekalian. Padahal lagi, kalau mau sama persis dengan objek asli, kita bisa menggunakan media lain seperti kamera handphone atau kamera digital yang sekarang sudah menjamur di pasaran.  

Padahaaaal..  padahal-padahal yang lainnya itu aslinya cuma dikembangkan sama pikiran kita sendiri. Got it? :))

 Kedua, hargai karya sendiri dengan cara mengamini bahwa gambar yang kita buat itu bagus, apapun hasilnya. Karena kalau bukan kita yang meyakini dari awal, siapa lagi? (ah, jadi inget ‘kuliah’nya bang Natrabuzz :))

Setelah mbak Ayu dan mas Hendra puas ‘nyanyi’ di panggungnya, saatnya mendorong keinginan adik asuh untuk mencoba aktivitas gambar-menggambar. Satu persatu anak dibagikan kertas gambar dan pensil warna. Sambil bercanda, mereka mulai menunduk, untuk kemudian menarik garis, membuat bentuk, mengarsir sudut, dan terakhir memberikan nama pada karya masing-masing.

Ini pada nunduk ngapain hayoooo?

Hebatnya, mas Hendra sepertinya paham betul bagaimana menghadapi anak-anak. Soalnya ketika masuk sesi penilaian, tak ada satupun gambar yang dibilang jelek, semuanya bagooooossss. Hihi.. Memang sih penilaian itu ala kadarnya, tapi pemilihan kata-kata yang ditujukan ke adik asuh itu penting! Salah satunya dengan cara membesarkan hati dan tidak menempelkan cap buruk kepada personal. Juaraaa~

Acara selesai. Orang-orang yang tampil hari ini adalah orang-orang yang tau dimana passion-nya, serta tau akan kemana mereka fokus nantinya. Menyenangkan. Tambah ilmu lagi, tambah teman lagi, tambah pengalaman lagi. Tinggal menekankan kepada diri sendiri, bahwasanya ilmu baru juga butuh tanggung jawab baru. Semoga bermanfaat. Yuk, semangat!

Yang nyengir lebar itu namanya Taufik.

Posisi di CAC Jogja!:Ketua Genk.

 

Di balik layar..

Huaaaa, cerita belum selesai ternyata (pasti udah pada bosyen bala-bala ini bacanya, hehe..). Hmm, menurut kacamata saya (walaupun ga punya), ada yang menarik di balik acara Kelas Mimpi#2 kemarin.

Jadi ceritanya, adik asuh saya, si tampan Sahrul, berhalangan hadir karena ada acara keluarga di Madura. Hiks, aku ditinggal (loooh). Tadinya pas dapet info Sahrul ga ikut, saya juga maunya ga ikut aja, hehe. Tapi, mbak Nina mengabarkan bahwasanya dek Mitha belum ada yang jemput. Okelah kita capsus cyinn kalau begitu :))

Rumah Mitha ini ga jauh sama rumahnya Sahrul. Bahkan mereka dulu pernah satu SD. Sebelumnya saya juga udah pernah main ke rumahnya, tapi ya gitu deh, rada lupa gang-nya.. Setelah sms, akhirnya ketemu juga rumahnya. Berhubung orangtua Mitha lagi ada urusan, kita langsung pergi tanpa pamit dulu. Ngeeeeengg brummm..

Mitha itu bedaaa sama Sahrul (hayaiyalaaah..). Sahrul kalau dibonceng ga kerasaaa sangking ringannya. Nah, kalau Mitha lumayan ada beratnya. Hehe.. Trus Mitha juga lebih nyambung ngobrolnya.. Mungkin karena dia perempuan dan dia juga punya kakak perempuan, jadi terbiasa cerita ini itu.  Asik deh pokoknya.. 

Di perjalanan pulang kita ngobrol, sampai akhirnya saya tahu kalau dia suka baca novel. Saya tawarin deh itu novel-novel yang ada di kosan. Terus dia tanya, ada ga’ novel-novelnya Tere Liye? Wah pas banget, Mitha ternyata satu selera ama saya karena kebetulan saya punya novel yang dia maksud.

Karena hari sudah siang, dan saya rada panik bawa motornya karena belum sarapan, akhirnya saya tawarkan ke Mitha buat mampir dulu ke kosan saya. Biar dia bisa sekalian pilih sendiri novel yang mau dipinjam. Sempat mampir juga buat beli es oyen. Enak gitu kayaknya panas-panas gini.. wuiiih 🙂

Setelah sampai kosan, saya keluarin itu buku-buku yang udah dimasukin kardus. Sembari Mitha pilih yang dia suka, saya dzuhuran. Selesai shalat, saya ajak dia menghabiskan es yang sudah dibeli. Sambil ngobrol ini itu, kita habiskan juga snack dari acara Kelas Mimpi #2 tadi. Enyaaaak.. Perut kenyang hati damaai. Alhamdulillah!

Ini pengalaman baru bareng aduk asuh yang sebelumnya ga’ saya rasain pas bareng Sahrul. Hehe.. Bukan berarti saya membandingkan lho.. Tiap adik asuh memang punya karakternya masing-masing, cuma kalau sama Mitha, sayanya ngerasa lebih klop aja gitu. Tapi saya tetep sayang juga sama Sahrul (ini kenapa jadi mellow sih? Oke skip!).

 Lain lubuk lain belalang..

Tapi saya belum pernah tuh makan belalang.. 

Heee, kenapa jadi ga’ nyambung? 

Intinya, selain pengalaman baru yang saya rasain pas bareng dek Mitha, ada satu cerita lagi nih tentang hubungan adik asuh dan kakak pendampingnya..

Jadi ceritanya, ada salah satu adik asuh kita yang ditinggal pergi sama kakak pendampingnya (hehee, ini kenapa kalimatnya jadi horor yak?). Bukan, bukan ditinggal yang itu. Tapi ditinggal pergi ke kota lain, alias berjarak, LDR-an gituuu.. Hihi.

Pihak-pihak yang saya bicarakan ini bernama Alief dan Dimas (sungguh nama sebenarnya). Yak, ini Alief, adik asuh yang di sesi pertama Kelas Mimpi #2 sempat maju buat demo masak bareng Taufik. Dan yak, Dimas ini kakak pendampingnya yang kece abiss. *uhuk* 

Periode Dimas sejak menjadi kakak pendamping Alief dimulai sejak awal tahun 2013, bersamaan dengan saya yang waktu itu mulai jadi kakaknya Sahrul. Entah sebenarnya aktivitas apa saja yang mereka berdua lakukan kalau sedang bertemu. Tapi yang pasti, Alief ini kelihatannya nge-fans betul sama Dimas.

Sejak awal Juli 2013, Dimas kudu pindah ke Jakarta untuk bekerja. Alief, yang menurut ceritanya mbak Yanti, katanya sempat ga’ percaya sama fakta ini. Kronologis jelasnya saya kurang paham sih sebenarnya. Mungkin, Dimas sebagai kakak pendamping mau menjelaskan agar kami paham? 🙂

Kenapa saya bisa menyimpulkan hal ini? Hmm, alasannya ga’ lain waktu Kelas Mimpi #2 kemarin. Saya yang kebagian jadi seksi dokumentasi hari itu, berkeliling ke adik-adik buat motretin polah mereka yang bikin gemes. Pas sampai di Alief, saya ajak ngobrol dia. Sampai akhirnya dia nyeletuk gini..

Nek mas Dimas ra mbujuk, aku ra bakal menyang ke sini..

Wuihhh.. Segitunya, Lief? Segitunya kamu nge-fans sama kakakmu itu.. Kayaknya Sahrul ga’ gitu-gitu amat.. -,-

Entahlah.. Bukan maksud hati ingin membanding-bandingkan.. I’m just curious, si Dimas pake pelet apa sampai adiknya bisa ngomong gitu? Hehehe canda lho yaa, damaaai yo maaaaann.. ^_^

Mungkin, yak ini hanya perkiraan saya, mungkiin Alief nemuin role-model yang pas di diri kakak asuhnya. Ini ditambah dengan pernyataan Alief, yang kalau ga’ salah saya dengar dari mbak Wenny di Klinik Kopi, bahwasanya Alief mau kakak pendamping pengganti yang kayak  Dimas. 

Pertanyaannya, yang kayak Dimas itu yang kayak gimana? Hahaduhh Liiiief… Cara memandang orang kan beda-beda. (Tanggung jawabmu lho ini Mas Diiim.. kekekee)

Singkat kata, Dimas berhasil menjadi contoh bahwa ia mampu menjalankan salah satu dari empat tugas kakak asuh yang dipatenkan oleh CAC! Jogja. Hayooo, siapa yang masih inget sisanya? Hehe.. Ini saya kasih contekannya deh..

 Tugas kakak pendamping:

1. Motivator: memberi motivasi agar adik semangat dalam belajar dan menggapai cita-cita.

2. Konselor: penghubung antara keinginan orang tua dan keinginan anak (dalam batasan yang wajar pastinya).

3. Role model: jadi sosok panutan yang bisa dibanggakan dan diambil manfaatnya.

4. Gift: menjadi hadiah bagi adik asuh. (silahkan perspesikan sendiri, yang pasti hadiah bukan berarti rajin kirim barang-barang mewah nan mahal ^,^v)

Begitulah kiranya review yang bisa saya sampaikan. Terimakasih sekali lagi untuk seluruh pihak yang telah banyak membantu sehingga acara bisa terselenggara dengan baik. Khususnya CAC! Jogja :))  *Nih triple S = sun siji-siji, muehehehehe..*

 

Alamat pihak terkait:

CAC! Jogja: coinforall.com (web), @CACJogja (twitter), Jl. Jurugsari IV/9 Jakal KM 7,3 Yogyakarta.

Michigo: @MichigoID (twitter), Jl. Colombo no. 7 Yogyakarta

IS-Jogja: ISJogja (facebook), @ISJogja (twitter), isjogja.tumblr.com (tumblr), is-yogyakarta.blogspot.com (blog)