Dyah Ayu Putriningsih

5068_1177486959354_1293531370_30497869_2313112_n

Setelah Dewa, coin-coin itu pun kembali tersalurkan ke seorang bocah kecil bernama Dyah Ayu Putriningsih.

Hari jum’at, tanggal 5 Juni kemaren saya bersama Danang berangkat ke SD timuran untuk bertemu dengan adik Dyah. Sesampainya disana kita langsung ketemu wali kelasnya, bu Wahyu dan meminta izin untuk ngobrol-ngobrol dikit dengan Dyah.Waktu siswa kelas VI sudah melewati Ujian nasional dan tidak ada lagi kegiatan belajar mengajar. Dyah Ayu Putriningsih, itulah nama bocah yang kini sedang menanti pengumuman
kelulusannya. iya, Dyah telah menyelesaikan pendidikannya di SDN TImuran dan kini menanti hasil belajarnya selama 6 tahun. NEM bayangannya adalah 23,87 dari tiga mata pelajaran dan NEM tertinggi di sekolahnya adalah 28,xx. Dengan nilai segitu, Dyah memiliki peluang besar untuk melanjutkan pendidikannya di SMP negeri.

Dyah termasuk anak kecil yang periang dan ceria. Dyah merupakan putri kedua dari pasangan bapak Sri Widodo dan Ibu Sukemi. Dyah memiliki seorang kakak perempuan dan telah menikah, sekarang kakaknya tinggal bersama suaminya dirumah ibu mertua. Bapak Dyah berprofesi sebagai tukang parkir dan ibunya bekerja sebaga pembantu di Hotel Nugraha yang berlokasi di daerah purotaman. sedangkan keluarga ini bertempat tinggal di daerah Dukuh, perbatasan antara kota Jogja dan Bantul, namun mereka tercatat sebagai warga bantul. Ini merupakan salah satu kendala bagi Diah untuk melanjutkan sekolahnya di Kota jogja karena untuk calon siswa dari luar Kota Jogja memiliki kuota sendiri. selain itu Dyah kesulitan untuk menerima bantuan yang berasal kota yogya. walaupun sebenernya Diah memiliki kartu KMS.

keluarga Dyah bukan termasuk keluarga yang harmonis. bapaknya sering mabuk-mabukan. Uang hasil parkir sering digunakan untuk membeli minuman keras dan mabuk-mabukan. Bu wahyu cerita kalau sang bapak Pernah menjemput Dyah pulang les di rumahnya dalam kondisi mabuk dan sepeda motornya menabrak pot
kembang di depan rumah bu wahyu. selama ini Dyah ikut ibunya, jadi setiap berangkat sekolah Dyah berangkat bareng ibunya yang juga berangkat ke Hotel tempat ibunya bekerja yang letaknya tidak jauh dari sekolah Dyah. setelah pulang sekolah Dyah tidak langsung pulang ke rumah tetapi mampir ke Hotel dan
baru pulang ke rumah ketika ibunya selesai bekerja. Disinilah Dyah melakukan aktifitasnya jika siang hari seperti tidur siang, bermain, belajar, makan, dan lain-lain. Ibunya jugalah yang selama ini membiayai sekolah Dyah.

Di kelas, Dyah termasuk anak yang biasa-biasa saja. kemampuannya tergolong menengah, tidak pinter banged dan tidak bodoh juga. Tapi Dyah punya semangat tinggi untuk belajar. Dari obrolan kami, tidak terlihat kalau Dyah memiliki masalah dalam keluarganya walaupun sebenarnya ada masalah dalam keluarganya. Dyah aktif dalam kegiatan pramuka dan pernah menang dalam lomba pramuka. Dyah memiliki Cita-cita ingin menjadi Guru SD, tetapi saat kami ajak ke UGM Dyah malah tidak tau UGM itu apa..hehehe,, selain membutuhkan bantuan materi, Dyah juga membutuhkan bimbingan moril dan semangat mengingat kondisi keluarga yang kurang mendukung.

5068_1177486999355_1293531370_30497870_4553946_n

saat ini Dyah masih memiliki tunggakan ke sekolah sebesar Rp 262.500,- dan harus dibayarkan sebagai syarat untuk mengambil ijazah. Uang tunggakan itu adalah uang komite, uang buku, dan uang les yang belum dibayar saat Dyah kelas V. inilah alasan kami untuk menyalurkan coin ke Dyah agar Dyah dapat
memperoleh ijzahnya dan bisa melanjutkan pendidikannya ke SMP.

written by Ibnu Junifan