Dropping-dropping :D

Oke, jadi semua cerita-nya berawal dari sini. Yogyakarta Coin A Chance mendapat dukungan yang semakin kuat dari para coinners (coin participant), coin yang terkumpul semakin bertambah dari hari ke hari, artinya amanah nya semakin besar. Kita yang dititipi amanah juga semakin besar tanggung jawabnya untuk menyalurkan harapan adek adek asuh. CAC kemudian memutuskan untuk menambah adek asuh. Setelah melalui perhitungan yang agak rumit, kita memutuskan untuk menambah 4 adek asuh. Rekomendasi adek asuh yang kita terima ada 9 anak yaitu:  Disri, Uni, Maria, Yuma, Tiara, Afri, Anna, Jumali, Rizky. Jadi kita butuh survey untuk menentukan kelayakan dari penerima beasiswa CAC ini.
Fabi, Eni, Fanbul, Aan, Hafiz, Ibnu, Arwan, Karlina, Awe, Jeff dan aku adalah team yang turun ke lapangan untuk melihat dan kemudian melaporkan kondisi setiap calon adek asuh. Dari report yang didapat kita olah lagi untuk memilih 4 anak yang paling layak untuk menerima beasiswa. Tidak mudah, dari mulai aku nya yang moody :p , ngumpulin kita kita yang semua nya termasuk orang sibuk dan belum lagi rasa dilema untuk memilih adek asuh. Sejujurnya setelah melihat semua keadaan calon adek asuh, kita pengen semuanya bisa kita bantu, tapi keterbatasan juga yg membuat kita harus menentukan pilihan.
Tempel – Sleman – Pathuk – Bantul – Wonosari, well… entah kenapa dilihat dari area survey nya pun, sesuatu banget, tantangan banget, hampir dari penjuru jogja ya, bulan puasa pulak 😀 Sangat salut buat team survey ku yang semangat banget, iya, sangat. Mereka melakukan itu tanpa ngeluh, semuanya fun! Dan baru tau dari ceritanya Aan di hari terakhir coin dropping kalau ternyata Hafiz secara fisik tidak boleh melakuakan perjalanan jauh sampai Wonosari, apalagi naek motor. But He did it! omg, i’m so blessed to have them.
Nah ini cerita tentang adek asuh yang baru…

DISRINA

Nilai Disri menonjol, ujian IPA 9 bahkan Matematikanya 10. Sekarang mulai sekolah di SMK2 Sewon jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual). Disri tinggal bersama kakak dan ibu nya, bapaknya sudah meninggal dunia. pendapatan ibunya rata-rata seminggu Rp. 120.000,-. Disri pernah malu dan takut untuk mengambil ijazahnya karena masih menunggak bayaran sekolah. Ibu Disri sangat bersemangat mendukung Disri untuk terus bersekolah mengingat nilai nilai nya yang bagus. Kebetulan saat kami survey, kakak Disri sedang kehilangan pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan di bidang hospitality di Jogja agar tetap bisa menjaga Disri dan ibunya.

AFRI dan TIARA

Afri dan Tiara ini adalah kakak beradik yang direkomendasikan oleh mbak Lastri dari PPMK sebuah yayasan pemberdayaan perempuan dan anak. Pertama survey ditemani mas Arwan dan mbak Lastri, dan apa yang saya lihat dan alami bersama mereka pagi itu sangat menyentuh. Afri kelas 6 SD dan Tiara kelas 4 SD,  dan masih punya dua adek lagi. Kakak beradik ini pernah pindah dari sekolah sebelumnya karena mereka tidak nyaman dengan pergaulan di sekolah yang memojokkan mereka karena mereka miskin.Nilai raport bukanlah satu satu nya bahan pertimbangan untuk memilih adek asuh, nilai raport hanya lah bahan yang digunakan untuk kita memahami apa yang terjadi. Nilai raport jelek karena tidak mengerjakan tugas, kenapa tidak mengerjakan tugas? karena tidak punya buku? kenapa tidak punya buku? tidak punya uang untuk membeli, sekolah tidak menyediakan fasilitas peminjaman buku. kenapa tidak meminjam? mereka dijauhi teman teman karena miskin. Kemiskinan menutup akses belajar? ya.
Masih banyak cerita dari team survey tentang adek asuh, yang akan segera di update juga di sini…
Setelah terpilih 4 adek asuh baruk yaitu Afri, Disrina, Jumali dan Yuma kita melakukan coin dropping, yang berlangsung selama 2 hari.
Coin dropping hari pertama dengan rute SD Kowang (Afri) – SMP Kasihan 1 (Mita) – SD nya Yuma (lupa namanya).

Hari itu, Afri dan Tiara bisa melunasi uang seragam dan LKS, bisa pake seragam baju muslim lengkap, ga pake celana jeans lagi, bisa punya kaos olah raga, bisa ngerjain tugas karena punya LKS, semakin semangat untuk sekolah, meskipun kadang harus jalan kaki sejauh 5km di siang bolong sepulang sekolah. terima kasih ya teman teman coinners….. mereka seneng banget 🙂

ini quote board yang bikin kita tercengang dan khawatir dengan kualitas pendidikan di sekolah ini…
Kakak beradik yang manis, hehe, itu Iva adeknya Afri dan Tiara, umurnya 3 tahun. Lucunya si Iva ini pengin banget sekolah, baju yang dia pakai adalah seragam TK bekas yang dikasi sama tetangga, dan kata Ibu nya dia ga mau ganti baju yang lain 😀
JUMALI
Ini adalah pertama kali aku ketemu Jumali, dan sangat bersyukur anak ini bisa menerima beasiswa CAC. Fabi dan Eni yang mensurvey Jumali atas rekomendasi Bu Ning yang juga Coinner. Jumali ini meskipun tampak agak tidak pede, dia cerdas. Dari cerita Fabi, Jumali bisa bercerita tentang kasus Melinda Dee dengan baik untuk ukuran anak seumur dia, hehe. Pihak sekolah sangat merespon dengan baik. Kepala Sekolah ini juga sangat memperhatikan Jumali, sepatu yang dipakai Jumali sudah ga layak pakai, itu pun dulu pemberian dari bapak Kepala Sekolah ini. Terima kasih ya coinners, Jumali bisa beli seragam baru yang layak pakai, beli sepatu yang lebih nyaman, dam bisa bayar LKS… terima kasih 🙂
Ini Disrina, Ibu nya dan temen temen Coin A Chance saat Coin Dropping ke SMK2 Sewon. Ibu ini yang berkali kali bilang terima kasih “Mas, Mbak… terima kasih… saya cuma bisa bilang terima kasih… saya ga bisa bales apa apa.. terima kasih..” Disrina juga seneng banget. Satu anak cerdas di Jogja, bisa aman dari ancaman putus sekolah… 🙂

YUMA
Yuma ini anak yang cerdas, banyak sumber dari Ibu Guru dan Jeff (yang sekarang jadi kakak pendampingnya) mengatakan hal tersebut. Selain Coin beasiswa yang sangat bermanfaat buat Yuma keberadaan kakak pendamping Jeff dan Fanbul sangat menjadi harapan agar Yuma bisa jadi anak yang lebih fun, karena hidupnya cukup keras, dan didikan di rumah terlalu berat jika harus dijalani sendiri oleh Yuma. Ini salah satu bentuk totalitas dari para sukarelawan Yogyakarta CAC, mereka bahkan menaruh perhatian sangat penting terhadap perkembangan secara psikologis adek asuh nya. Salut!!  Sekarang Yuma naik kelas 5 SD. Yuma jago main basket lho 🙂
Coin Collecting Day! Mengumpulkan lagi harapan untuk pendidikan anak Indonesia..
source : http://cildebron.blogspot.com/2011/08/yogyakarta-coin-chance.html