Dewa Firman

dewa
Sore itu kami disambut dengan senyum manis dari seorang Ibu yang kini sedang mengandung 7 bulan dan seorang anak yang sedang memegang buku Pendidikan Kewarganegaraan. Katanya sih esok harinya mau ulangan. 15 menit kemudian Bapak pulang dari sungai yang terletak di deket rumah. Selama hampir 90 menit kami mengobrol asik tentang bagaimana keluarga ini mendidik anak. Bagaimana Sang Bapak menanamkan budi pekerti dan moral yang tinggi kepada si anak. Di mata gw, Bapak adalah sosok yang tangguh yang walaupun kurang mampu masih menjunjung tinggi pendidikan anaknya. Sebuah fenomena yang jarang sekali kami temui. fenomena semangat tiada henti seorang orang tua yang pantang menyerah mendidik anaknya.

Dewa panggilannya… putra kedua dari Ibu Atun dan Bapak Yudhi yang sehari-harinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan buruh bangunan… Untuk seorang Bapak Yudhi, pendidikan anaknya sungguh merupakan hal nomor satu yang selalu didahulukan… Menurut beliau bagaimanapun keadaannya, walau kurang mampu, tapi selama tangan dan kakinya masih mampu berkarya, Beliau akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya…

Dewa, Ketua kelas 3 SD Negeri Nolobangsan yang pada semester akhir kemarin berhasil menduduki puncak rangking di kelasnya alias rangking 1… KAtanya sih dia suka banget sama pelajaran matematika, sampe2 nilai matematikanya di rapornya bernilai 95. hampir sempurna… di sekolah dia dikenal sebagai anak yang pandai, penurut, pendiam namun sangat akrab dengan guru2nya. Mungkin dipengaruhi dengan prestasinya di sekolah. Memiliki cita-cita ingin seperti Bambang Pamungkas.

Pertama kali bertemu anak ini dan mengobrol dengannya tak terlihat ada wajah canggung Dewa bertemu dengan wajah2 baru kami. DAri caranya menyampaikan sesuatu sangatlah jelas, sampai2 kami sedikit tak percaya bahwa dia masih duduk di bangku kelas 3 SD. Waktu itu yang ngobrol sih gw sama si karlin. Jujur secara pribadi gw aga malu n jadi sdikit introspeksi neh ma skripsi gw ngliat kedisplinan dia yang begitu tinggi dalam mengatur waktunya buat belajar. Mulai dari pulang sekolah, Dewa diajari pak Yudhi untuk selalu ngerjain tugas2nya sekolah yang dijadikan pekerjaan rumah. Baru setelah itu Dewa istirahat atau pergi bermain dengan teman-temannya. Sorenya biasanya DEwa mengikuti TPA di masjid deket rumahnya.

Perlu diketahui, Rumah Dewa cuma sepetak tanah di tanah pekuburan yang panjang x lebarnya kira2 cuma sekitar 2 x 3 m. sungguh kecil jika dibandingkan dengan kamar loe semua di rumah nyaman loe. Itupun sudah dilengkapi dengan dapur dan tempat menyimpan seluruh pakaian DEwa dan keluarganya. Tanah pekuburan??? pasti temen2 serem khan? Ya itulah jadi ada beberapa penduduk di sekitar situ yang menempati tanah itu untuk dijadikan tempat tinggal atas seijin juru kunci kuburan. Jadi semisal Sang Juru Kunci tersebut meninggal maka seluruh rumah di tempat itu akan digusur.Sungguh merupakan sebuah pemandangan yang sangat memprihatinkan.

Kepada Dewa kami akan menyerahkan koin-koin pertama kami… ke seorang anak yang polos, berprestasi, namun kurang beruntung… semoga apa yang kami berikan dapat membantu pendidikannya…